Monday, September 02, 2013

Kirana

Rangga pergi mendaki meski ia meneteskan air mata. Namun entah kenapa ia merasa lega. Kepergian Rangga memberinya ruang untuk berpikir tentang dirinya sendiri. Daripada mengambang, mungkin akan lebih baik kalau semuanya diakhiri saja. Ia mengerti Rangga. Ia mengerti mengapa ia harus mendaki meski ia tak menyukainya. Mungkinkah dua orang yang saling mencintai bisa saling menyakiti? Entah sejak kapan ia mulai mencandu pesan-pesan singkat dari Rangga. Kalau sebelumnya ia bisa mandiri kini sendiri tak lagi memiliki makna. Rangga sebaliknya. Kalau dulu ia sering memberi kejutan pada Kirana, kini ia berubah acuh. Mereka berdua berjalan ke arah yang berbeda. Dan ketika semuanya tak lagi sejalan, masih perlukan ia bertahan?

Mungkin ia perlu menciptakan jarak. Kembali ke dirinya sebelum ada Rangga. Ketika ia bisa menaklukan semuanya sendirian. Bukankah sendiri hanya ilusi para penulis atau sineas untuk mendramatisasi keadaan?

Ia tidak akan menghubungi Rangga untuk satu bulan kedepan tekadnya.

No comments:

A Letter to Papa

Dear Papa, It should be your 73rd birthday on the third of January. I could only send you Al-Fatihah and pray that Allah SWT always protect ...