Thursday, September 21, 2006

Marah

Dengan mata sedikit melotot, dan suara keras, ia membuat seluruh kelas hening. Tak ada yang berani membalas tatapannya, apalagi bersuara. Keadaan kelas cukup mencekam, beberapa mahasiswa duduk dengan kepala tertunduk. Meski kepala langsung melakukan iterasi rasionalisasi akan pilihan gaya mengajarnya, dalam diriku tetap terjadi penolakan. Dalam beberapa model pemerintahan/pengajaran aku memang menemukan metode mengajar gaya represif, tapi bagiku gaya seperti itu hanya menimbulkan penolakan yang kian kuat.

Tubuhku langsung bereaksi. Aku diserang kantuk yang dahsyat. Sekuat tenaga aku mencoba menahan agar mataku tetap terbua. Melihat kiri-kanan, mulai mencubit-cubit telapak tangan, sampai kaget karena sempat terlelap barang sesaat. Sama halnya kalau aku minum kopi, bukannya tetap terjaga, aku malah terserang kantuk. Alhasil aku sedikit pusing gara-gara harus menahan kantuk.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 5 kurang, badanku sudah mulai agak segar kembali. Huehehe, badanku cukup melek jam, sehingga tau kuliah akan segera berakhir, dan dosenku mulai memperlihatkan sisi lainnya. Ia menampakkan kesedihan saat berbicara mengenai Indonesia. Alasan kemarahan di awal kuliah pun mulai terungkap. Indonesia membutuhkan orang-orang pintar untuk dapat merubah tatanan yang ada. Ah, sisi yang meledak-ledak itu ternyata berasal dari rasa cinta terhadap bangsa. Akupun jadi sedikit terlarut dalam suasana.

Aku tetap tidak suka dengan gaya mengajarnya, tapi aku akan mencoba untuk belajar agar suatu hari, ia pun bisa bangga.

1 comment:

Badru Tamam Mifka said...

Jika kau marah selama 1 menit, kau kehilangan kegembiraan selama 70 detik...

A Letter to Papa

Dear Papa, It should be your 73rd birthday on the third of January. I could only send you Al-Fatihah and pray that Allah SWT always protect ...