Jingga perlahan menelan langkahnya. Sore itu ia sudahi dengan enggan. Menatap jalan untuk terakhir kalinya dan setelah yakin tak ada bayangan datang, ia beranjak pulang. Begitu terus tiap petang. Mempertahankan harapan yang kini perlahan menjadi kebiasaan. Orang lalu lalang abai dari pandangan. Bukan mereka yang ia cari, meski belakangan pandangannya lebih banyak menerawang.
Ia dan dia. Dulu tak ada waktu yang dilewatkan tanpa bercengkrama bersama. Bukan lewat pegangan tangan layaknya muda mudi zaman sekarang, tapi hanya lewat tatapan. Perbincangan hening yang membuat saat-saat bersama berlalu tanpa terasa. Namun perkelahian senja itu menyudahi semuanya. Menghabiskan segala tawa yang pernah dibangun bersama. Adakalanya ia berharap dapat mengubah beberapa detik dari momen itu, namun dikala lain, ia memang merasa begitulah takdir menggariskan kisah hidupnya. Tanpa pernah ia tahu mengapa apa yang sebenarnya terjadi pada detik-detik yang kini menjadi selamanya.
Tanpa terasa ia berjalan melewati tempat-tempat mereka menghabiskan senja. Sejuta kenangan menyergap membawa sensasi akrab yang begitu dikenalnya. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama? Dengan segera pikiran itu ditepisnya. Mungkin bukan dia yang benar-benar dicarinya, melainkan perasaan akrab yang dirindukannya: saat segala terasa mudah.
Sebuah tangan kecil perlahan membuyarkan lamunannya. "Pa, ayo pulang," ujar sebuah suara sambil mengaitkan jari-jarinya pada tangan ayahnya. "Ayo, nak." Ia masih berharap melihat sosok bayang istrinya yang meninggal di hari perkelahian mereka. Ingin rasanya ia meneriakan pada dunia, ia menyesal. Menebus semua kemarahan pada hari itu dengan melakukan segala hal yang membuat dia senang. Tapi kini semuanya terlambat.
Perlahan dilihat wajah gadis mungilnya yang mau memasuki sekolah dasar. Bayangan yang dicari-carinya terpatri diwajah putri mungilnya... Semoga aku belum terlambat.
Wednesday, October 22, 2008
Monday, October 20, 2008
Order
Pijak... kata... biner
Anima/animus
atau
antara
Ketika semua berada dalam ketidakpastian
Pertentangan yang tak pernah sampai ketimbangan
Meninggalkan pendulum atau menantinya
terus dan terus
Menunggu
Berharap
Meski ketidakpastian datang hinggap
dan tahu ketidakpastian dan ketidakpastian tidak melahirkan kepastian
Anima/animus
atau
antara
Ketika semua berada dalam ketidakpastian
Pertentangan yang tak pernah sampai ketimbangan
Meninggalkan pendulum atau menantinya
terus dan terus
Menunggu
Berharap
Meski ketidakpastian datang hinggap
dan tahu ketidakpastian dan ketidakpastian tidak melahirkan kepastian
Thursday, October 09, 2008
Ketika Terpesona...
Adakalanya semua yang dilakukannya terasa sempurna. Seolah kau adalah segalanya. Namun di kala lain, perhatian itu menguap begitu saja. Tanpa bersalah atau pikiran akan ada yang terluka. Sementara ada yang menawarkan biasa. Kesediaan mendukung tanpa syarat dan juga tanpa kejutan yang akan membuatmu bagai seorang raja. Kadang kau akan merasa semua berlalu tanpa makna, namun saat dunia seolah berbalik kejam padamu, kau akan yakin bahwa ia akan senantiasa ada disampingmu untuk mendukung dan menyatakan bahwa kau tak pernah sendirian.
Bagaimana mungkin kau bisa begitu buta? Terpesona pada kilau sekejap yang hanya menawarkan kebahagiaan fana. Berharap akan keajaiban bahwa sekejap itu akan berubah menjadi selamanya. Tapi memang, pikiran tak selamanya mudah diajak kerjasama. Diperlukan usaha keras yang kadang menyakitkan untuk dapat menerima kenyataan dan kemudian belajar untuk tak lagi bergantung pada ketidakpastian.
Maaf kalau aku harus berhenti mempercayaimu... Ini hanya sebuah algoritma rasional atas dirimu, sebuah negasi atas semua kata-katamu padaku. Bukankah itu yang kau ajarkan padaku, agar aku belajar membaca, dan sekarang aku sedang membaca dirimu...
Bagaimana mungkin kau bisa begitu buta? Terpesona pada kilau sekejap yang hanya menawarkan kebahagiaan fana. Berharap akan keajaiban bahwa sekejap itu akan berubah menjadi selamanya. Tapi memang, pikiran tak selamanya mudah diajak kerjasama. Diperlukan usaha keras yang kadang menyakitkan untuk dapat menerima kenyataan dan kemudian belajar untuk tak lagi bergantung pada ketidakpastian.
Maaf kalau aku harus berhenti mempercayaimu... Ini hanya sebuah algoritma rasional atas dirimu, sebuah negasi atas semua kata-katamu padaku. Bukankah itu yang kau ajarkan padaku, agar aku belajar membaca, dan sekarang aku sedang membaca dirimu...
Thursday, September 25, 2008
Wednesday, September 10, 2008
Hitam
Kelam sekali duniamu.
Benarkah? Aku hanya mencoba untuk tak terluka.
Tapi apa yang kau katakan berbeda dengan perbuatanmu. Kau tak pernah peduli dengan acuhmu yang kadang membuat orang yang baru mengenalmu enggan. Kenapa kau mencoba meyakinkan orang lain bahwa dunia ini kejam, sedangkan kau menjalani hidupmu dengan senyuman.
Jadi apa yang kau harapkan dariku?
Aku tak tahu. Aku bahkan mengira melihat diriku dalam dirimu, karena itulah kadang aku harus memaksakan diri untuk tangguh.
Karena tahu kau tak bisa mengandalkanku?
Bukan... bukan dalam artian negatif. Aku jadi lebih mengenal lemah diriku dan belajar banyak dari hal itu.
Lalu kenapa kini kau terluka?
Ternyata sikapku telah membuat seseorang membenciku. Aku berharap bisa lebih tangguh dan memperbaiki sikapku, tapi mengetahuai apa yang terjadi membuatku sedih.
Sudahlah, lupakan saja. Kalau memang tak berhasil, kenapa harus dipertahankan. Bukankah itu hanya membuat kalian berdua terluka?
Lihat... dari siapa aku mendengar kata-kata itu...
Ah kau, bahkan di saat sedih bisa-bisanya kau bercanda seperti itu...
Aku hanya mencoba mencari sesuatu yang salah. Aku tak peduli jika apa yang kulakukan itu membuat banyak orang terusik, tapi rasanya akan berbeda jika itu datang dari seseorang yang dekat denganmu.
Seperti aku?
Ya, seperti kau. Kadang kau membuatku kesal setengah mati.
Tapi aku tak pernah bohong padamu.
Aku tahu, karena itu aku juga tak pernah benar-benar membencimu meski sikapku kadang acuh. Aku belajar untuk mengerti dan bukan kesempurnaan yang membuat sebuah hubungan berhasil tapi keinginan untuk belajar memahami.
Benarkah? Aku hanya mencoba untuk tak terluka.
Tapi apa yang kau katakan berbeda dengan perbuatanmu. Kau tak pernah peduli dengan acuhmu yang kadang membuat orang yang baru mengenalmu enggan. Kenapa kau mencoba meyakinkan orang lain bahwa dunia ini kejam, sedangkan kau menjalani hidupmu dengan senyuman.
Jadi apa yang kau harapkan dariku?
Aku tak tahu. Aku bahkan mengira melihat diriku dalam dirimu, karena itulah kadang aku harus memaksakan diri untuk tangguh.
Karena tahu kau tak bisa mengandalkanku?
Bukan... bukan dalam artian negatif. Aku jadi lebih mengenal lemah diriku dan belajar banyak dari hal itu.
Lalu kenapa kini kau terluka?
Ternyata sikapku telah membuat seseorang membenciku. Aku berharap bisa lebih tangguh dan memperbaiki sikapku, tapi mengetahuai apa yang terjadi membuatku sedih.
Sudahlah, lupakan saja. Kalau memang tak berhasil, kenapa harus dipertahankan. Bukankah itu hanya membuat kalian berdua terluka?
Lihat... dari siapa aku mendengar kata-kata itu...
Ah kau, bahkan di saat sedih bisa-bisanya kau bercanda seperti itu...
Aku hanya mencoba mencari sesuatu yang salah. Aku tak peduli jika apa yang kulakukan itu membuat banyak orang terusik, tapi rasanya akan berbeda jika itu datang dari seseorang yang dekat denganmu.
Seperti aku?
Ya, seperti kau. Kadang kau membuatku kesal setengah mati.
Tapi aku tak pernah bohong padamu.
Aku tahu, karena itu aku juga tak pernah benar-benar membencimu meski sikapku kadang acuh. Aku belajar untuk mengerti dan bukan kesempurnaan yang membuat sebuah hubungan berhasil tapi keinginan untuk belajar memahami.
Tuesday, August 26, 2008
Sedih
Jangan sedih... jangan sedih... jangan sedih...
Maaf, aku egois
Kau berhak sedih
Tapi sedihmu membuatku ingin menangis
Maaf, aku egois
Kau berhak sedih
Tapi sedihmu membuatku ingin menangis
Monday, August 25, 2008
Pada Suatu Dimensi
Lama tak bersua
Aku, ruang, waktu dan kau
Adakah yang hilang?
Adakah rentang membuatmu ubah?
Aku, ruang, waktu dan kau
Adakah yang hilang?
Adakah rentang membuatmu ubah?
Monday, August 04, 2008
Berubah
Adakah yang berubah? Blogspot ke Multiply, Bandung ke Jakarta, kampus ke birokrasi... Adakah hal itu juga menggerus sesuatu? Masih ada begitu banyak rindu. Masih ada begitu banyak tak biasa. Tak tahu kapan akan nyaman. Tak tahu juga akan kemana. Tapi jalani saja. Membiarkan semuanya seperti apa adanya. Irisan-irisan kehidupan yang mempertemukan aku dengan beragam rupa wajah dan polah. Tradisi yang kadang membuat terhenyak dan juga jengah. Ah, aku belajar banyak hingga kadang aku berpikir haruskah semua ini dilalui? Haruskah semua harus diawali lagi?
Kau takkan mengenal manis jika tak pernah merasakan pahit. Bagaimana mungkin kau dapat merasa senang jika hidupmu hanya mengetahui bagian yang itu-itu saja. Adapula yang bilang, gelap bukanlah lawan dari terang, tapi ketiadaan cahaya. Spektrumnya satu saja. Seperti putih yang ketika bertemu prisma akan mewujud dalam berbagai rupa warna. Putih itu mungkin serupa hidup yang mewujud ketika tertumbuk realita.
Kau takkan mengenal manis jika tak pernah merasakan pahit. Bagaimana mungkin kau dapat merasa senang jika hidupmu hanya mengetahui bagian yang itu-itu saja. Adapula yang bilang, gelap bukanlah lawan dari terang, tapi ketiadaan cahaya. Spektrumnya satu saja. Seperti putih yang ketika bertemu prisma akan mewujud dalam berbagai rupa warna. Putih itu mungkin serupa hidup yang mewujud ketika tertumbuk realita.
Friday, July 04, 2008
Oh, Faust!
Lagi pengen belajar, tapi enaknya belajar apa ya? Yang seru, rumit dan menyenangkan untuk di oprek. Kayanya aku mau mulai belajar program, setelah meninggalkan ilmu itu sekitar 5 tahun. Dan artinya aku harus mulai nyari buku dummies, hehe
Friday, June 20, 2008
Ketika Chaos Merindukan Order
Tak mengapa jika kau mau diam saja. Bagaimana kau menjalani hidup itu pilihanmu bukan? Aku takkan menuntut apa yang bukan inginmu. Tapi dengan semua yang telah kau lakukan, kenapa tiba-tiba kau berubah? Kau mengacaukan sebuah algoritma yang telah kususun dalam kepalaku atas nama dirimu. Kebiasaanmu, gayamu menghadapiku, semuanya. Apakah kau baik-baik saja? Apa aku telah berbuat salah padamu? Diammu membuatku tak menentu.
Kau tak berharap aku bisa membaca pikiranmu bukan? Memasuki area bahasa yang tak kupahami. Membuka lapisan yang sudah dikotakhitamkan. Aku tak bisa. Aku berharap bisa, tapi tetap tak bisa. Mungkin aku belum memahamimu. Algoritma yang kususun atasmu belum utuh. Induksi prematur terburu-buru. Karena itu aku akan menambahkan sebuah fungsi lain atas gambaranku atas dirimu. Diam. Ketika kau menutup penjelasan atas pertanyaanku dan membiarkan aku menebak-nebak apa yang ada dalam pikirmu.
Baiklah...
Kau tak berharap aku bisa membaca pikiranmu bukan? Memasuki area bahasa yang tak kupahami. Membuka lapisan yang sudah dikotakhitamkan. Aku tak bisa. Aku berharap bisa, tapi tetap tak bisa. Mungkin aku belum memahamimu. Algoritma yang kususun atasmu belum utuh. Induksi prematur terburu-buru. Karena itu aku akan menambahkan sebuah fungsi lain atas gambaranku atas dirimu. Diam. Ketika kau menutup penjelasan atas pertanyaanku dan membiarkan aku menebak-nebak apa yang ada dalam pikirmu.
Baiklah...
Sunday, June 08, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
A Letter to Papa
Dear Papa, It should be your 73rd birthday on the third of January. I could only send you Al-Fatihah and pray that Allah SWT always protect ...
-
Is technological failure a good thing? This question crossed my mind when I attended a lunch lecturer on nano-technology and development. Th...
-
"Jadi apa yang kamu cari?" "Somebody who can complete me .." "Come on, be serious." "I am serious. I w...