Wednesday, April 30, 2008

Ekonomi

Aku lagi belajar ekonomi. Makro, mikro dan meso. Mencoba menghindari mainstream, menemukan beberapa paper menarik, dan otakku mulai kembali keriting karena bertemu dengan beberapa persamaan diferensial serta grafik supply-demand. Kalau mau serius, papernya harus mulai aku print dan mencoba menurunkan persamaannya sendiri. Hmm... ekonomi memang tampaknya menjadi jalan tengah antara S1 dan S2-ku, meski dulu aku sempat membenci ekonomi setengah mati. Karena pandangan ekonomi kuanggap memiliki porsi besar dalam kekacauan negara saat ini.

Kajian yang menarik adalah pendekatan liberal market economies vs coordinated market economies. Pendekatan pertama digunakan oleh negara-negara US, Canada, Australia, Ireland, UK, NZ, sedangkan yang kedua oleh mayoritas negara-negara kontinental dan Jepang. Apakah pendekatan ini juga terkait dengan geneologi penyebaran manusia Anglo-Saxon dan Rhineland? Hmm... I'm starting sound like Strauss. Dengan melihat sejarah Indonesia, mungkin ada tahap-tahap transisi yang menarik, yaitu dari dominasi Belanda ke Amerika dalam kajian postkolonial. Transisi ini juga dapat ditelusuri di perguruan tinggi dan sekolah formal yang sempat mengalami perubahan dari gaya Belanda dengan pendekatan holistik menjadi Amerika dengan sistem soal-jawab. Begitupula melalui program Kentucky (atau Texas ya, jembatan keledai di kepalaku hanya nama restoran cepat saji:D). Bagaimana sistem pasar yang cocok untuk Indonesia secara kultural? Nah, sekarang aku mulai terjebak golongan strukturalis. Aaaargh!

Entry point lain menggunakan pendekatan Michel Callon and the gank: Muniesa, orang Turki (I forget his name), Law yang mencoba menggagas konsep market dengan pendekatan network dan negosiasi. Konsepnya masih fluid, terakhir aku baca masih dalam draft 60 halaman yang seperempat bagiannya berisi daftar references-nya. Fyyuh, agak lelah juga membacanya...

NB: tampaknya aku harus mencari hobi lain selain download-print-baca-paper

Sunday, April 20, 2008

Math, Social & Me

It's been quite long since my last excitement. Most of all because I've got a partner to share my ideas, and as a bonus I got a really cool paper. Huahaha, such a weird way to make me happy. Anyway, the paper talk about a weighted social network. I haven't finished it yet, because the adobe problem. From the abstract, I think I've found the missing link that I've been looking at recently, although I have to be aware to the grand-theory thing in the way I elaborate things. I like see everything being explained in such a manner.

Wednesday, April 16, 2008

Demiurge

Kau mengerti bukan?
Izinkan aku untuk tidak. Biarkan bayangan tak setia untuk kali ini saja.
Apalagi yang kau harapkan, bahwa dunia akan berbalik untukmu? Menghapus jejak-jejak yang telah terlukis di pasir, dan membeku pada suatu waktu tertentu? Kau tak bisa. Kau tak punya kuasa untuk itu.
Aku akan mencoba.
Sudahlah. Aku tak akan memaksakan sesuatu yang bukan kamu. Aku mengerti, dan kuharap kaupun begitu.

Thursday, March 20, 2008

Network Analysis

Mau ngomong di MP tapi malu karena ada Master Network :D

Entry pointku relatif berbeda dengan penelitian jaringan yang dilakukan oleh Watts dkk: teori jaringan aktor. Alih-alih berangkat dari statistik, analisa dalam ANT dimulai dari pemaknaan. Jadi pertanyaan mengenai bagaimana seseorang dapat memanfaatkan jaringan yang dimilikinya akan relatif lebih mudah dijawab daripada dengan menggunakan Six Degrees of separation. Pendekatan ANT akan sedikit bermasalah ketika berhadapan dengan big numbers, karena penelusuran yang dilakukan pada umumnya melibatkan aktor yang terbatas. Exit strategynya adalah dengan menggunakan fraktal, yaitu menemukan elemen-elemen generik dalam sebuah jaringan, kemudian mengekstrapolasikan pola tersebut dalam jaringan yang lebih besar.

Landasan seperti apa yang dibutuhkan agar multiplikasi tersebut dapat berhasil?

Tuesday, March 18, 2008

Cinta

Seperti air...
Ketika kau menggenggamnya terlalu erat, kau hanya akan kehilangan
Berikan ruang, maka ia akan mengisi ruang tersebut

Thursday, March 13, 2008

Akhirnya...

Dapat juga penjelasan. Fyuh, malu bertanya memang bikin sakit perut, huahaha. Ternyata aku lebih suka mengetahui sesuatu meski itu pahit daripada berada dalam kondisi ngga jelas, dan toh aku tetap bisa belajar sesuatu. Huaaaaa... my pathetic english, ternyata akut berat. Jadi makin salut ama EF yang betah bacain tulisanku berlembar-lembar dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, bahkan untuk yang aneh, nyleneh, dan kadang nyebelin. Two thumbs up!

Jadi enaknya belajar bahasa Inggris dimana ya?

Wednesday, March 12, 2008

Parameter Cinta

Gara-gara baca tulisan Ika disini nih...

Mungkinkah cinta dapat dikalkulasi? Lebih jauh lagi, parameter apa yang diperlukan untuk memvalidasi bahwa seseorang tengah jatuh cinta? Bisakah parameter ini berlaku timbal balik, if and only if, atau hanya dapat dimengerti ketika terjadi? Tanpa aba-aba, tanpa persiapan, hanya begitu saja. Pemahaman yang hanya dimengerti ketika bertemu dengan orang yang tepat, bahkan ketika hal itu bertentangan dengan akal sehat.

Bagiku cinta itu satu paket dengan misteri. Kompleks. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dari unsur-unsur penyusunnya karena hanya akan memerangkapnya dalam reduksionis akut. Bahkan ketika zat-zat kimia itu disuntikan untuk memperoleh sensasi, efeknya hanya berlangsung sekejap, dan lebih menyakitkan lagi ketika berakhir: kekosongan kelam yang dalam. Sesaat dimana kau lenyap, dan kemudian kau kembali sendirian.

Riwayat candu sendiri sudah berlangsung ribuan tahun. Setua peradaban manusia. Jamur-jamur yang dibakar, dupa, kondisi sakau, kesurupan, upacara-upacara pemujaan dan beragam sensasi untuk merasakan ekstase. Bagaiman dengan cinta? Toh, kematian tak dapat menghilangkan rasa yang pernah singgah, atau mengenyahkan semua kenangan yang pernah ada. Ada kesamaan dalam rupa, meski beda dalam kesejatian. Ah, entahlah...

Tuesday, March 11, 2008

Menunggu Jilid II

[mode bersembunyi ON]
Huaaa.... harus menunggu lagi, mules lagi, dan ini sedikit diluar kebiasaan dia yang langsung memberi kabar. Hmmph, kalau sudah begini biasanya sisi seniman mulai kreatif membuat narasi-narasi dalam kepala. Hmmph, mana temanku juga belum memberi komen pada graf terakhir. Huaaa.... kemana orang-orang?

Monday, March 03, 2008

Bawalah Kemana Hatimu Membawa...

Seharusnya kutinggalkan saja dia...
Seperti yang disarankan beberapa orang. Harus berapa orang lagi agar aku yakin, satu, dua, belasan, puluhan?
Mungkin aku hanya tak mau menanggung rasa bersalah, meski tak jelas juga bersalah karena apa. Etika, moral, sopan santun? 
Kesempatan terakhir, setelah itu adios...

Tuesday, February 26, 2008

Ia: Vere (2)

"Kau telah membangunkan macan tidur."
"Aku tahu..."
"Kau tahu dan tetap melakukannya?" tanya Ra dengan tatapan tidak percaya.
Aku mengangguk, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk. Meski aku telah memperhitungkan kemungkinan ini, aku sendiri tak menyangka dampaknya akan separah ini. Tatapan mata Ra seolah hendak menegaskan kesalahan besar yang telah ia lakukan. Ah… entahlah. Saat aku mengambil keputusan itu, aku hanya melihat tantangan yang akan kuhadapi. Ternyata pilihanku telah melukai perasaannya terlalu dalam. Harusnya… harusnya… kalau dia memang sayang padaku, dia bisa menerima keputusanku.

Sebagian dari diriku mensyukuri keadaan ini. Toh, pada suatu saat keadaan ini akan mengemuka juga, tak masalah nanti atau sekarang. Aku lega karena bisa mengungkapkan apa yang kurasa, tak sekadar merelakan apa yang menjadi mimpiku demi melihat senyumnya. Disisi lain aku terluka. Pertengkaran hebat tadi malam menguras energiku terlalu banyak. Aku benci pertengkaran, lebih benci lagi karena itu aku lakukan pada orang yang kusayang.

Mungkin aku memang salah dari mula, seharusnya tak kubiarkan semuanya terjadi. Ia ingin menjadikan aku bagian dari lukisannya, tanpa pernah meminjamkan kuas. Bagaimana mungkin ia mengharap bahwa itu akan menjadi lukisanku? Tapi ia tak pernah mau tahu, ia terpesona akan warna-warna dan komposisi yang telah disapukannya. Tapi dimana aku?

“Ra, apa aku salah?”
“Kita sudah melewati sesi ini puluhan kali. Dan saat itu kau bekata bahwa kau mau menyerahkan mimpimu padanya. Andaikan kau memang bisa, maka kau telah berhasil menjadikan lukisan itu menjadi milikmu. Namun dengan heningmu, ia merasa kau telah bahagia.”
“Aku tidak pernah berkata begitu. Tiap kali aku protes, ia hanya tersenyum seolah aku becanda. Aku serius,” ujarku dengan mata berkilat-kilat marah.
“Banyak yang tidak bisa membedakan marah dan becandamu.”
“Apa yang kau harapkan, aku membanting pintu, mengatakan semuanya telah berakhir? Aku mau semuanya berhasil, tapi aku juga lelah.”

[bersambung]

A Letter to Papa

Dear Papa, It should be your 73rd birthday on the third of January. I could only send you Al-Fatihah and pray that Allah SWT always protect ...