Thursday, April 14, 2005

Puisi

Udah lama ngga bikin puisi. Mungkin karena waktu merenung kian sedikit, tertelan oleh program Maple yang dari tadi belum kusentuh. Ah... kini tak ada lagi pertarungan keinginan, yang ada hanyalah penggenapan kewajiban.

Pertarungan itu kian mengganas
Menghisap udara
Memeras asa
Hingga sampai kebatas lara
Tak ada waktu untuk keluh
Karena aku menolak 'tuk merapuh

Kesadaran: Kolektif vs Pribadi

Saya sering bertanya-tanya pada orang yang memilih kesadaran kolektif, "Dimana posisi mereka sebagai individu?" Kesadaran kolektif yang saya maksud, bukan berasal dari kesaran pribadi yang kemudian membentuk sebuah kesadaran bersama, melainkan sebuah tindakan yang dilakukan atas dasar sebuah kesepakatan. Artinya, tindakan yang didasari sebuah motif tak lagi ditempatkan diwilayah privat, melainkan menjadi semcam sebuah konsensus. Saya? Terus terang saya adalah penganut pencarian pribadi. Bagi saya, kesadaran yang ditanamkan dengan waktu instan atau lewat buku-buku How to tampak terlalu absurd(tanpa makna). Tapi belakangan, ketika saya mencoba untuk mencari sebuah perspektif lain, saya memperoleh jawaban yang lumayan masuk akal juga. Bahwa sekarang segala sesuatunya harus dilakukan serba cepat kalau tidak mau ketinggalan zaman. Mulai dari perkembangan pentium yang dulu memakan waktu tahunan, sekarang hanya tinggal bulanan, makanan instan, mulai dari supermi hingga nasi(masukkan air panas dalam wadah, kemudian nasi dapat langsung disantap).

Begitu pula dengan kesadaran, selain konstruksi sosial konvensional yang melibatkan peran keluarga sebagai inisiator awal hingga pemilihan lingkungan tempat tinggal, hingga konstruksi modern dengan metode training, yang memberi garansi berubah dalam hitungan hari. Bahkan ada iklan, "Belajar tassawuf 24 jam." Bayangkan bahkan tassawuf, yang konsepnya zuhud serta mementingkan proses, sampai masuk dalam perputaran zaman yang serba cepat dan instan.

Artinya, keberadaan training-training yang menawarkan segalanya dengan serba cepat, hanyalah sebuah jawaban atas perkembangan zaman. Entah, karena memang ritme kehidupan yang berjalan kian cepat, atau orang-orang memang tidak memiliki waktu lagi untuk mencari hikmah dengan cara konvensional. Pada skala individu, metode yang diterapkan disesuaikan dengan kecendrungan masing-masing, namun ketika seseorang hendak menerapkan sesuatu cara dengan paramter efektif dan efisiensi, maka bahasannya akan beralih pada metode apa yang mampu memberikan hasil optimal.

Dari kasus-kasus itu, tentu saja akan muncul data-data pencilan. Namun itu bukan berarti bahwa metode tersebut gagal. Dan bukan berarti pula orang-orang pencilan tersebut salah. Hanya perbedaan pendekatan saja. Begitu pula dalam hal kesadaran pribadi vs kolektif. Pada beberapa fenomena yang saya amati, seseorang mengambil tindakan berdasarkan apa yang menjadi konsensus. Tindakan yang sekilas tampak sebagai sebuah perilaku tanpa kesadaran tersebut, sebenarnya tak separah itu. Setelah saya amati lebih lanjut tindakan itu didasari pada sebuah kesadaran yang lebih tinggi lagi.

To be continue...

Happy Birthday

"Mas, iyut udah beli kado."
"Iya? Ada di dalam tas ya?"[sambil langsung ngoprek tas yang biasa aku pakai].
"Lho, kan belum ada serah terima. Nanti aja kalau mama ke Bandung, Iyut titipin."
"Hmm..", masang muka mikir.
"Mas..."
"Apa?"
"Iyut pinjem dulu ya?"
"Ha....[Jeda]. Tapi jangan sampai lecek ya?!"
"Asyii..k"

Hehe... jadi kebagian baca duluan. Tepat hari ini kakakku ulang tahun. Nyanyi dulu ah...
Happy birthday to you...
Happy birthday to you...

May all your wishes comes true

Tuesday, April 12, 2005

Ternyata...

Biasanya aku menggunakan search engine Google, tapi tadi pas iseng(karena mau nulis juga lagi buntu), iseng aku nyari mencari namaku di Yahoo. Ternyata hasilnya lebih banyak, aku juga nemu namaku di blog berita, pas aku ngirim pertanyaan ke eramuslim:D

Monday, April 11, 2005

Kepada Seorang Kawan

[Episode: Cinta]

Kawan, sudah cukup lama aku tidak menyuratimu. Ada begitu banyak kejadian belakangan ini, yang mau tak mau kuakui menyita sebagian perhatianku. Kau ingat cerita mengenai waktu relatif di buku Supernova? Bagiku, waktu kini terasa begitu cepat berlalu, sampai-sampai aku tidak bisa meluangkan waktu untuk diriku sendiri. Aku tahu kau tidak suka caraku mencampuradukkkan teori fisikawan favoritmu itu dengan hal-hal relatif dalam kehidupan sehari-hari. Tapi aku tidak punya cara lain untuk menggambarkannya, jadi demi aku, kuharap kau tidak langsung menekukkan mukamu ketika membaca surat ini.

Aku selalu kagum dengan keteraturan hidupmu. Sesuatu hal yang sampai sekarang belum bisa kulakukan. Aku bukannya tidak pernah mencoba, tapi dengan mudah percobaan itu gagal total karena aku tidak pernah tahan pada sebuah ritme. Kau mungkin akan mulai mereka-reka bagaimana kacaunya ritme hidupku sekarang, sebenarnya tidak juga. Aku masih setia dengan perjalanan rumah-kampus, atau buku-buku karya pengarang favoritku. Bahkan, aku baru membeli sebuah buku baru karya Gardner. Ya..ya… aku tahu, kau pasti akan berkata bahwa aku orang yang fanatik. Hanya karena aku terpesona pada kisah Hans Thomas, aku jadi semacam fans gila yang senantiasa menunggu karya baru sang idola. Tapi kau tahu, hidup ini adalah sebuah misteri. Siapa tahu bukunya kali ini akan mengajariku sesuatu tentang hidup. Bukankah dibalik sikapmu yang selalu rasional, kau juga menyimpan kegilaan-kegilaan mengenai teori-teori Schrodinger hingga Heissenberg?

Kawan, ada sesuatu yang membuatku gelisah. Aku perlu pertimbanganmu dari sudut yang logis. Apa yang kau ketahui tentang cinta? Kenapa kata itu seringkali disebut dalam lagu-lagu ataupun film-film? Semua definisi yang aku ketahui tampaknya tidak mampu menjelaskan mengapa rasa itu bisa menyebabkan seorang berbinar-binar sekaligus menitikkan air mata. Apakah cinta itu sebuah rasa yang bisa dijelaskan dengan logika dan penjelasan ilmiah, atau ketika kau bertemu dengan seseorang, kau hanya bisa merasakan bahwa ia adalah orang yang tepat?

Kawan, apakah menurutmu mungkin ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki? Kalau aku termasuk yang menjawab mungkin. Tapi menurut survey yang aku lakukan(kau lihat, aku mulai menjadi seperti kau yang menggunakan metode ilmiah untuk menjelaskan kondisi yang menimpa diriku), mayoritas menjawab tidak mungkin. Ada perbedaan mendasar yang menyebabkan keduanya tidak pernah lepas dari kecendrungan-kecendrungan untuk memiliki perasaan lebih dari seorang sahabat. Kalaupun hubungan persahabatan antara keduanya memasuki fase baru, biasanya pilihannya hanya dua, jadian atau satu pihak merasa kemurnian persahabatannya ternoda, kemudian persahabatan itu putus begitu saja. Aku tentu saja, tidak akan termakan hasil survey(kau sudah hapal kebiasaanku bukan?), bukankah selama komunikasi berjalan semuanya akan baik-baik saja? Bagaimanapun aku akan mencoba untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain.

“Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?” tanyamu suatu kali. Aku tidak tahu, kalaupun perasaan itu ada, aku takkan mengungkapkannya. Aku tak memungkiri kadang ada seseorang yang mampu membuat denyut jantungku berdebar lebih cepat. Sesekali muncul pertanyaan menggoda, apakah ia memiliki perasaan yang sama denganku, tapi kutepis pertanyaan itu jauh-jauh. Masih banyak hal yang ingin kulakukan dan kucapai saat ini. Bukankah ketertarikan merupakan sesuatu hal yang pasti akan menghinggapi anak adam, merubah hal yang biasa menjadi penuh warna hanya dengan melihatnya? Tinggal bagaimana menempatkan perasaan itu dalam wadah yang benar. Semoga saja, aku tidak termasuk golongan orang-orang yang melampaui batas.

Mungkin kau bingung membaca suratku kali ini. Aku tidak akan heran kalau kau merasa seperti itu, kuharap kata-kata dari buku Vita Brevis bisa menolongmu untuk memahami apa yang tengah aku rasakan(sekalian agar kau tidak mengataiku sebagai seorang fans fanatik buta :D), “Betapa aku merindukanmu, Floria! Andai kau ada bersama kami saat ini. aku ingin bertemu denganmu, aku ingin bertemu denganmu dan, pada saat yang sama, aku juga tidak ingin bertemu denganmu. Aku ingin, tetapi aku tidak bisa , dan aku tidak boleh, tetapi aku sangat ingin.”

Potongan diatas merupakan bagian dari surat Agustinus untuk Floria. Kau lihat, pertentangan batinnya demikian kuat ketika ia harus memutuskan jalinan cintanya dengan Floria karena memilih jalan pengendalian diri. Sungguh mengerikan membayangkan ada pertarungan yang demikian dahsyat dalam diri seseorang. Aku jadi teringat kata-kata Muthahhari, bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kau bisa lepas dari penjara cinta diri. Kau mungkin akan berkata, cinta senantiasa bersifat timbal balik. Tapi dalam situasi seperti yang dialami Agustinus, aku tidak tahu apakah ia benar-benar memikirkan Floria atau hanya tenggelam dalam pertarungan rasio dan perasaan dirinya sendiri.

Sama halnya ketika kau menyatakan perasaanmu. Kau bilang bahwa kau bersedia melakukan apa saja asal ia bahagia, tapi ternyata pernyataanmu adalah satu-satunya hal yang membuat ia terluka. Bukan karena dirimu secara langsung, tapi karena di dalam dirinya berlangsung pertempuran, antara menjaga perasaanmu dengan mempertahankan hatinya sendiri. Aku tidak yakin penjelasan tambahanku dapat membantu, sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang tengah aku bicarakan dan lakukan. Karena itu, sebagai seseorang yang kuanggap paling mengerti diriku, kuharap kau mau menjelaskan apa itu cinta.

Semoga Sang Maha Kasih senantiasa membalas segala kebaikanmu.

Salam sayang selalu,
Kawanmu

Mau Tau Aja...

Sun Go Kong kini tengah melompat-lompat(simbol pikiran dalam Zen).

“Rasa ingin tahu perlu dibatasi ngga?” Jawaban dari pertanyaan itu aku temukan di cover belakang buku Samurai yang isinya, “Kemampuan untuk mengendalikan rasa ingin tahu kadang lebih penting daripada sebilah samurai tajam”(kurang ingat redaksional tepatnya seperti apa, soalnya kata-kata itu hanya aku baca sekilas pas liat-liat buku di Gramed). Kemudian di buku Vita Brevis aku juga menemukan bagian mengenai rasa ingin tahu. “Nilainya hanya sedikit diatas dua belas ribu dolar—untuk sesuatu yang mungkin saja tidak memiliki nilai sejarah apa pun. Namun aku begitu ingin tahu, dan aku bukanlah orang pertama yang membayar mahal untuk rasa ingin tahunya.”(Vita Brevis, Gardner:h.8)

Apakah rasa ingin tahu bagian dari hawa nafsu, sehingga untuk menghentikannya diperlukan upaya ekstra? Kalau merujuk kisah Pandora, tampaknya aku akan menjawab ya. Bayangkan saja, gara-gara rasa ingin tahu Pandora, semua kejahatan keluar dari kotak, dan hanya menyisakan sebuah kebaikan yaitu harapan. Apa jadinya kalau rasa penasaran senantiasa digenapkan dengan sebuah pencarian panjang tanpa jaminan jawaban. Mungkin hasilnya adalah manusia-manusia gelisah yang tenggelam dalam dunianya sendiri.

Pembatasan bagi rasa ingin tahu akhirnya membawaku pada sebuah pertanyaan yang lebih besar, liberal atau sosialis? Sebenarnya ini gara-gara belakangan ini aku kembali membaca-baca pemikiran orang-orang di JIL, kemudian aku bandingkan dengan teman-teman yang oleh JIL dituding sebagai kelompok militan fundamentalis(istilah yang menurutku sudah mengalami distorsi pemaknaan, sehingga umumnya dikonotasikan negatif). Terlepas dari segala tudingan yang dikenakan pada jaringan tersebut, argumen-argumen yang dikemukakan dalam diskusi di milis untuk beberapa kajian tertentu bisa diterima secara luas. Poin positif lain yang aku dapatkan dari milis itu adalah keterbukaan untuk menerima kritik dan perbedaan pendapat. Meski dari segi pewacanaan keluar cenderung untuk menampilkan kesan menentang arus dan asal beda. [Ada sebuah kata yang hilang dari paragraf ini, Islam. Cuma aku suka serem menggunakan kata itu, takutnya terlalu banyak distorsi subjektivitas sehingga memungkinkan terjadi salah penafsiran akan Islam sendiri, dan tentang pemahamanku akan Islam]

Tahun 98-an, banyak bermunculan buku-buku Islam dan Sosialisme, Islam dan Teologi Pembebasan, Kiri Islam dll. Sebenarnya wacana ini tidak benar-benar baru, kalau melihat pemikiran H.O.S Tjokroaminoto, terlihat bahwa beliau juga menganut paham tersebut(fui..h lagi-lagi menurut pendapatku). Pemikiran ini kemudian ditandingi oleh Islam Liberal(jadi selain muncul untuk menandingi islam literal, islam fundamental dll) secara ideologis, liberal berlawanan langsung dengan sosialisme(setidaknya kalau masih mau setia dengan pandangan biner, a dan bukan a). Nah, kedua kubu ini sama-sama menyatakan sebagai turunan dari islam.(Sebenarnya tidak adil juga kalau pemaknaan liberal langsung dikonotasikan ke JIL, karena ada orang-orang lain pemahaman islamnya liberal tidak tergabung dengan JIL, tapi kalau dimasukkan pembahasannya jadi kemana-mana…:( ).

Kasus yang menarik untuk disimak adalah mengenai dukungan terhadap kenaikan BBM yang mencantumkan beberapa dedengkot JIL sebagai pendukung. Salah satu argumen yang dikemukakan di milis oleh kelompok pro-kenaikan adalah pengurangan subsidi sejalan dengan ideologi liberal, yang kemudian dibantah dengan alasan, kalau seperti itu apa bedanya islam liberal dengan liberal murni. Perdebatannya kemudian menjadi cukup panjang dan melebar.

Aku tidak akan fokus ke masalah itu(fokus mengenai pemasangan iklan oleh freedom institute buat tugas kuliah kontroversi aja), tapi pertanyaan yang muncul adalah, benarkah islam cenderung pada liberal, demokrasi? Kalau pertanyaan ini aku peroleh waktu SMA pasti jawabanku tidak, soalnya saat itu aku lebih cenderung ke pemikiran sosialis. Tapi kalau dilihat dari konsep fitrah manusia, seharusnya dengan kebebasan berpikir seseorang dapat menuju pada kesejatian Islam. Seperti alasan yang dikemukakan dalam sejarah sudah berakhir(?), sejarah sudah tidak diperlukan lagi karena pertarungan pemikiran telah menelurkan kapitalisme sebagai pemenang. Berakhirnya sejarah diartikan sebagai puncak dari dialektika yang menelurkan kapitalisme sebagai ideologi sempurna hasil tesis-antitesis.

Meski ternyata pandangan itu salah dan ternyata kapitalisme belakangan dinilai bukan solusi ideal, adanya pandangan bahwa kebenaran akan selalu keluar sebagai pemenang cukup menarik. Kalau memang ya, sebagaimana argumen yang sering dikemukakan oleh teman-teman berhaluan liberal, maka demokrasi adalah sesuatu yang harus didukung, dan kebebasan informasi menjadi suatu hal yang mutlak. Tapi apa kondisi ideal senantiasa berlaku? Sebagaimana alam yang memiliki sistem keseimbangan, apakah kondisi yang ada sekarang sudah merupakan kondisi ideal?

Adam Smith pernah mengemukakan teori mengenai pasar ideal. Kondisi yang kemudian dikritisi oleh Keynes, karena menurutnya dalam The General Theory of Employment(1936), “Ekonomi pasar bebas bukanlah mekanisme yang selalu bisa memperbaiki dirinya, tetapi dalam beberapa kondisi(seperti yang umum), ekonomi pasar bebas ternyata dapat merosot tanpa kepastian.” Dari pandangannya ini kemudian muncul liberal keynesian yang melibatkan intervensi pemerintah dalam mengatur pasar, entah lewat pajak, belanja pemerintah maupun kontrol kredit.

Adanya campurtangan pemerintah, meski untuk negara yang memproklamirkan diri liberal sekalipun, mengindikasikan bahwa liberalisme murni tidak mungkin, yang mungkin hanyalah mengatasnamakan liberalisme untuk melegitimasi hal-hal yang menyangkut kepentingan publik. Contoh lain adalah affirmative action yang hadir untuk memberikan perlakuan-perlakuan khusus kepada kelompok-kelompok marjinal, seperti: buruh, perempuan, petani, nelayan. Khusus untuk masalah perempuan, affirmative action kadang memperoleh tantangan dari kaum feminis radikal yang menganggap perlakuan khusus ini sebagai salah satu bentuk ketidaksetaraan gender.

Bentuk-bentuk campurtangan, hingga pembatasan informasi menjadi suatu hal yang masuk akal bagi orang-orang sosialis--bahkan untuk beberapa kasus—juga berlaku untuk orang liberal. Alasannya kondisi yang ada belum ideal, untuk mencapai nilai-nilai dan keadaan yang diinginkan diperlukan rekayasa-rekayasa sosial yang hakekat/intinya hanya diketahui sebagian elit. Pandangan ini mengandung pro-kontra, pertama, sejauh mana elit benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat. Kedua, sistem kontrol apa yang dapat menjamin penguasa untuk tidak berlaku sewenang-wenang(sebagaimana kritik yang dilancarkan terhadap Marx, karena klas proletar pada akhirnya membentuk klas atas baru). Ketiga, rakyat senantiasa berada dalam kondisi mapan, dengan filter-filter yang dilakukan elit penguasa sehingga membentuk masyarakat yang tidak kritis dan stagnan.

Pandangan liberal versus sosialis kemudian sangat relevan ketika ditarik dalam masalah kebebasan pendapat. Salah satu indikator keberhasilan demokrasi adalah adanya kebebasan pendapat yang diwujudkan dalam pers yang independen. Hal ini tidak ditemui di negara-negara sosialis, seperti ketika terjadi penyanderaan murid-murid sekolah di Rusia, tayangan berita Rusia tetap adem-ayem, hal serupa juga dilakukan oleh media di Singapure dan Malaysia untuk menjamin stabilitas negara. Indonesia pun pada masa Soeharto menerapkan aturan yang ketat terhadap pemberitaan, yang intinya tidak boleh mengganggu kestabilan negara. Bagi yang melanggar, bisa dikenai hukuman berdasarkan UU Subversif. Meski untuk beberapa hal tertentu, pemasungan pers berarti hilangnya sebuah alat(tools) pembelajaran masyarakat dan sistem kontrol terhadap kebijakan publik, disisi lain, pembatasan itu menjaga sebuah nilai yang bagiku sangat penting: kepercayaan terhadap negara.

Naïve? Sangat mungkin. Tapi lebih jauh lagi, hal yang aku sesalkan adalah kebebasan informasi seringkali diartikan sebagai era keterbukaan. Atas nama realitas dan masyarakat yang sudah cukup dewasa, banyak tayangan yang cukup vulgar lolos sensor. Jumlah tabloid maupun majalah yang ‘menjual perempuan’ pun meningkat tajam. Masyarakat tiba-tiba kehilangan kontrol, entah apa ini yang disebut eforia atau kondisi sekarang masuk kategori sakit.

Untuk mengimbangi kebebasan informasi tersebut, yang sudah nyaris mustahil untuk dihambat, muncul budaya tandingan(counter culture). Pandangan yang digunakan bukan mengenai kegamangan seseorang ditengah massa, melainkan budaya alternatif yang sama-sama menggunakan simbol idol, perayaan serta perangkat khas budaya massa lainnya, namun dikaitkan dengan nilai tertentu. Artinya, kebutuhan manusia untuk memperoleh hiburan, teladan, lingkungan, tayangan televisi, berita, tidak dinafikan melainkan dialihkan. Hasilnya, munculah genre FLP yang memiliki basis pembaca cukup loyal, MQ, eramuslim.com, Aa’ Gym dll.

Pembahasan mengenai sosialis-kapitalis, bebas-tidak bebas menjadi cukup rumit. Karena alat kontrol pun kurang mempan. Cara yang lebih efektif ternyata dengan memunculkan sebuah sistem alternatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang tengah gelisah. Hal yang hanya mungkin diwujudkan pada iklim keterbukaan(baca: demokrasi). Meski kalau melihat perjalanan sejarah, semenjak NKK/BKK disahkan pada tahun 1979, banyak aktivis yang mengalihkan kegiatannya ke masjid-masjid serta organisasi keprofesian. Namun momentum perubahan diperoleh ketika iklim politik di Indonesia sudah melunak(thanks to Habibie, yang udah mencabut UU Subversif serta belasan UU lainnya).

Pandangan global diatas juga berlaku dalam skala mikro. Misalnya, sejauh apa kontrol orangtua dalam mengarahkan anak pada agama serta nilai-nilai? Apakah dengan cara yang otoriter, atau dengan pemahaman serta peneladanan? Bagaimana kalau cara kedua kurang berhasil? Hal ini bagiku menjadi cukup dilematis(hua..ha..ha.. bahasannya jadi serius gini..) karena aku sendiri lebih mementingkan segi-segi humanis, sedangkan dalam wilayah bernama agama, ada dogma-dogma yang memang tidak bisa diperdebatkan. Seperti waktu itu pernah ngobrol dengan seorang teman, menurut dia perbedaan organisasi agama dan non-agama terletak pada tujuannya. Organisasi agama memiliki tanggungjawab moral bukan hanya pada kebaikan universal, melainkan juga pada kebenaran agama yang dianut. Poin tambahan ini yang menjadi agak kompleks, karena ketika berbicara mengenai kebenaran ada banyak sekali sudut yang bisa dipakai.

Di postingan mengenai jilbab, ada komen yang menyebutkan tentang yang penting mental jilbab bukan tampilan fisik. Kalau dari segi humanis, aku setuju, tapi kalau seperti itu aku jadi kehilangan fokus yang buntutnya mengarah pada sinkretisme agama. Ada statement menarik mengenai jalan keselamatan… tapi aku sensor(hehe… lagi menganut paham pembatasan informasi untuk kebaikan, for your own sake!).

Kesimpulannya(hua..ha…ha… kaya anak TK aja pake kesimpulan segala, biar keren epilog aja deh). Epilog, masing-masing orang punya jalannya masing-masing. Hikmah ada pada teks, hujan yang memberi nafas baru bagi tanaman, pergantian siang-malam, VCD-VCD Harun Yahya, lagu-lagu Barat hingga nasyid, film, ta’lim-ta’lim, pesantren, sekolah umum, lebah, bunga, gunung, keluarga, teman. Segalanya adalah tanda(def: menunjuk pada sesuatu diluar dirinya) yang akan dikaitkan dengan petanda pada masing-masing individu(pake konsep penanda-petandanya Saussure) dan menuju pada satu titik, Dia.

Karena Sang Maha Kasih akan berlari padamu ketika engkau tertatih menuju-Nya….

Thursday, April 07, 2005

Superman

It may sound absurd...but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed...but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
It’s not easy to be me
(Superman, Five for Fighting)

Wednesday, April 06, 2005

Rasa

Andai aku tahu...
Mungkin hatimu dapat tetap utuh
Diam atau mundur menjauh

Pengamat

"Yut, kamu kuning," kata Yan kemarin. Kemarin ada buku tentang warna dan karakter orang. Tau ngga, pas aku baca ternyata koq banyak benernya ya. Meski aku rada males mengkasifikasi sifat atau karakter orang, termasuk diriku sendiri(soalnya kata ibuku dari hasil penelitian terbaru karakter orang sampai 10![faktorial] kombinasi) ternyata buku itu rada2 nyepet. Hua..ha... tebak karakter kuning dibilang apa aja: periang, anti-komitmen, trus turunan-turunan keduanya. Hmm... baiknya bukan sebagai pembenaran kali ya... tapi lebih bagaimana mengintrospeksi diri.

Kalau dipikir-pikir, seorang wartawan/saintis yang baik kan memang harus menjadi seorang pengamat sejati. Artinya, sebisa mungkin pengaruh subjektivitas pribadi direduksi. Kalau kata pak bhm waktu training kemarin, media berperan sebagai juri dalam sistem peradilan. Media memiliki otoritas untuk menyaring informasi apa yang layak ditampilkan kepada publik, sementara posisi hakim tetap dipegang oleh pembaca. Nah, aku juga lebih senang menjadi pengamat daripada terlibat langsung. Implementasinya ya... jadi rada-rada ancur. Udah berapa bentuk kaderisasi yang aku hindari, mulai oskm, os jur, LMD, sampai bentuk-bentuk kaderisasi yang lebih informal sampai jabatan-jabatan struktural. Hehe... istilah kerennya out of structure... Hal yang mengimbangi sisi ini hanya segi kompromistis yang aku miliki. Agar menghindari konflik, aku harus tetap melakukan tarik-ulur, antara keinginan dan kewajiban. Lagian ngga kebayang kan kalau hidup menentang struktur terus menerus.

Ilustrasinya seperti ini, ketika dunia diributkan oleh dikotomi antara blok barat dan blok timur, Indonesia dan negara-negara netral memproklamirkan diri tergabung dalam Gerakan Non-Blok. Pada akhirnya, GNB ini memiliki kebijakan regional sendiri, dan bentuk kerjasama2 antara negara anggota. Lalu apa bedanya dengan blok Barat, dan blok Timur yang juga melakukan hal serupa bagi para anggotanya. Contoh yang agak berbeda mungkin pada istilah himpunan dan non-himp. Istilah ini masih benar, karena orang-orang yang non-himp tidak membentuk sebuah organisasi formal.

Pada kasusku, ketidakteraturan yang aku alami lama-lama membentuk pada sebuah bentuk kemapanan baru, yaitu keteraturan yang tidak teratur(chaos). Kontradiksi dengan pola hidup tidak terstruktur. Hua..ha..ha... abis belajar anril(baca:unreal), pelajaran killer di math. Jadi aja pola pembuktian argumentasinya menggunakan pembuktian secara tak langsung(kalo ngga salah istilah kerennya reducto ad absordum).

Ibuku pernah mengusulkan, kalau melanjutkan ke S-2, mending milih yang lebih sosial, seperti kajian kebijakan. Isi orang-orangnya sosial ama sains, nanti kerjanya di BAPPENAS. Di Indonesia masih realtif baru, tapi kalau di luar negeri, udah banyak universitas yang menyediakan jurusan ini. Ada kenalan maya yang mengambil jurusan ini di Amrik, pas aku baca tulisannya keren banget. Hal yang kebayang dalam benakku adalah kajian kebijakan teknologi atau semacam itu deh... Intinya jadi pengamat abis...

Monday, April 04, 2005

Jadi Apa?

Kemarin dapet kunjungan dari ortu. Muncul sebuah pertanyaan, yang sampai saat ini masih sering kutunda-tunda, "Mau jadi apa?" Wah... bingung jawabnya. Selama ini segala hal yang aku lakuin ngalir aja. Bukan karena aku ingin menampik kenyataan bahwa hidup ini ngga selamanya mulus, tapi karena aku merasa kalau dipikirkan hanya akan menambah penuh isi kepala. Gara-gara selalu menghindar dari pertanyaan itu, aku juga pernah dibilang, "Yut, kamu kurang ambisius." He... bukannya ngga punya visi, secara makro aku punya sebuah visi. Tapi kalau sampai turunan dan menyangkut detil kehidupan sehari-hari kayanya belum kebayang. Mungkin gara-gara visi besarku adalah menjadi orang yang berguna. Simple kan?

O iya jadi nyambung lagi sama materi yang dikasih kang Al Sabtu kemarin(tentu saja setelah mengalami distorsi waktu, ingatan dan subjektibvitas), mengenai energi minimal. Kalau seseorang menyukai suatu bidang, maka energi yang dikeluarkan untuk mendalami bidang itu disebut energi minimal(hua..ha... pantes untuk baca buku Strauss ama Marsden berat banget dibandingkan buku2nya Paulo Coelho dan Gardner). Dalam dunia tulis menulis misalnya, untuk memperoleh tulisan yang bagus lebih baik nulisnya di fokuskan dalam satu bidang kajian, daripada lompat-lompat ngebahas masalah fisika, budaya, politik. Tulisannya malah ngga dalem.

Au..ah... pokoknya kuliah diberesin dulu...

Berubah

Kemarin di Aksara ada materi dari kang Al. Salah satu hal yang disinggung adalah tulisan perdana beliau yang ketika dibaca ulang bikin malu. Aku jadi ingat tulisan seriusku yang awal banget. Pas kemaren ngubek-ngubek kumpulan kertas zaman SMA, aku nemu tulisan. Aku baca aja, "wah... darimana nih," pikirku. Ngga taunya, ada tulisan Yuti Ariani. Oa..lah... gaya nulisku udah berubah banget, sampai ngga ngenalin tulisan sendiri. Tema-tema yang biasa diangkat juga relatif berubah. Dari beberapa tulisan yang aku liat, kebanyakan nyinggung permasalahan sosial, ekonomi, politik(tapi lebih nyrembet ke ideologi). Beda ama tema-tema yang kuangkat sekarang yang lebih ke arah filosofis dan nilai-nilai. Mungkin yang paling konkret ke masalah budaya, tapi itu juga ngga begitu dalam. Hal lain yang cukup mencolok lainnya adalah tulisan SMA mainannya data. Mulai dari ngudek-ngudek web indies yang kontra-pemerintah sampai yang data versi BPS. Kalau sekarang jangankan make data, untuk nambah wacana aja kayanya males banget. Apa mungkin ini juga dipengaruhi oleh kedekatan dengan beberapa orang? Abis, zaman SMA lagi zaman2nya rusuh, pergolakan lagi rame-ramenya, buku-buku terlarang juga mulai gampang ditemui di pasaran. Udah gitu temen diskusiku di milis juga banyak anak sosial, mulai dari yang ikut FNPBI, liberal, sampai yang moderat-moderat lucu. Sekarang sih, kalo ngga dirame-in ama buku-buku math, aku banyaknya baca buku sastra. Hehe... emang rada tema bacaannya juga rada berubah. Ngga tau dari segi kualitas, yang jelas gaya nulisku berubah banget, mulai dari yang ngalir sampai sekarang banyak garuk-garuk kepalanya. Wah... apa artinya ini?

A Letter to Papa

Dear Papa, It should be your 73rd birthday on the third of January. I could only send you Al-Fatihah and pray that Allah SWT always protect ...