Thursday, April 14, 2005
Puisi
Pertarungan itu kian mengganas
Menghisap udara
Memeras asa
Hingga sampai kebatas lara
Tak ada waktu untuk keluh
Karena aku menolak 'tuk merapuh
Kesadaran: Kolektif vs Pribadi
Begitu pula dengan kesadaran, selain konstruksi sosial konvensional yang melibatkan peran keluarga sebagai inisiator awal hingga pemilihan lingkungan tempat tinggal, hingga konstruksi modern dengan metode training, yang memberi garansi berubah dalam hitungan hari. Bahkan ada iklan, "Belajar tassawuf 24 jam." Bayangkan bahkan tassawuf, yang konsepnya zuhud serta mementingkan proses, sampai masuk dalam perputaran zaman yang serba cepat dan instan.
Artinya, keberadaan training-training yang menawarkan segalanya dengan serba cepat, hanyalah sebuah jawaban atas perkembangan zaman. Entah, karena memang ritme kehidupan yang berjalan kian cepat, atau orang-orang memang tidak memiliki waktu lagi untuk mencari hikmah dengan cara konvensional. Pada skala individu, metode yang diterapkan disesuaikan dengan kecendrungan masing-masing, namun ketika seseorang hendak menerapkan sesuatu cara dengan paramter efektif dan efisiensi, maka bahasannya akan beralih pada metode apa yang mampu memberikan hasil optimal.
Dari kasus-kasus itu, tentu saja akan muncul data-data pencilan. Namun itu bukan berarti bahwa metode tersebut gagal. Dan bukan berarti pula orang-orang pencilan tersebut salah. Hanya perbedaan pendekatan saja. Begitu pula dalam hal kesadaran pribadi vs kolektif. Pada beberapa fenomena yang saya amati, seseorang mengambil tindakan berdasarkan apa yang menjadi konsensus. Tindakan yang sekilas tampak sebagai sebuah perilaku tanpa kesadaran tersebut, sebenarnya tak separah itu. Setelah saya amati lebih lanjut tindakan itu didasari pada sebuah kesadaran yang lebih tinggi lagi.
To be continue...
Happy Birthday
"Iya? Ada di dalam tas ya?"[sambil langsung ngoprek tas yang biasa aku pakai].
"Lho, kan belum ada serah terima. Nanti aja kalau mama ke Bandung, Iyut titipin."
"Hmm..", masang muka mikir.
"Mas..."
"Apa?"
"Iyut pinjem dulu ya?"
"Ha....[Jeda]. Tapi jangan sampai lecek ya?!"
"Asyii..k"
Hehe... jadi kebagian baca duluan. Tepat hari ini kakakku ulang tahun. Nyanyi dulu ah...
Happy birthday to you...
Happy birthday to you...
May all your wishes comes true
Tuesday, April 12, 2005
Ternyata...
Monday, April 11, 2005
Kepada Seorang Kawan
[Episode: Cinta]
Kawan, sudah cukup lama aku tidak menyuratimu.
Aku selalu kagum dengan keteraturan hidupmu. Sesuatu hal yang sampai sekarang belum bisa kulakukan. Aku bukannya tidak pernah mencoba, tapi dengan mudah percobaan itu gagal total karena aku tidak pernah tahan pada sebuah ritme. Kau mungkin akan mulai mereka-reka bagaimana kacaunya ritme hidupku sekarang, sebenarnya tidak juga. Aku masih setia dengan perjalanan rumah-kampus, atau buku-buku karya pengarang favoritku. Bahkan, aku baru membeli sebuah buku baru karya
Kawan, ada sesuatu yang membuatku gelisah. Aku perlu pertimbanganmu dari sudut yang logis. Apa yang kau ketahui tentang cinta? Kenapa kata itu seringkali disebut dalam lagu-lagu ataupun film-film? Semua definisi yang aku ketahui tampaknya tidak mampu menjelaskan mengapa rasa itu bisa menyebabkan seorang berbinar-binar sekaligus menitikkan air mata. Apakah cinta itu sebuah rasa yang bisa dijelaskan dengan logika dan penjelasan ilmiah, atau ketika kau bertemu dengan seseorang, kau hanya bisa merasakan bahwa ia adalah orang yang tepat?
Kawan, apakah menurutmu mungkin ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki? Kalau aku termasuk yang menjawab mungkin. Tapi menurut survey yang aku lakukan(kau lihat, aku mulai menjadi seperti kau yang menggunakan metode ilmiah untuk menjelaskan kondisi yang menimpa diriku), mayoritas menjawab tidak mungkin.
“Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?” tanyamu suatu kali. Aku tidak tahu, kalaupun perasaan itu ada, aku takkan mengungkapkannya. Aku tak memungkiri kadang ada seseorang yang mampu membuat denyut jantungku berdebar lebih cepat. Sesekali muncul pertanyaan menggoda, apakah ia memiliki perasaan yang sama denganku, tapi kutepis pertanyaan itu jauh-jauh. Masih banyak hal yang ingin kulakukan dan kucapai saat ini. Bukankah ketertarikan merupakan sesuatu hal yang pasti akan menghinggapi anak adam, merubah hal yang biasa menjadi penuh warna hanya dengan melihatnya? Tinggal bagaimana menempatkan perasaan itu dalam wadah yang benar. Semoga saja, aku tidak termasuk golongan orang-orang yang melampaui batas.
Mungkin kau bingung membaca suratku kali ini. Aku tidak akan heran kalau kau merasa seperti itu, kuharap kata-kata dari buku Vita Brevis bisa menolongmu untuk memahami apa yang tengah aku rasakan(sekalian agar kau tidak mengataiku sebagai seorang fans fanatik buta :D), “Betapa aku merindukanmu, Floria! Andai kau ada bersama kami saat ini. aku ingin bertemu denganmu, aku ingin bertemu denganmu dan, pada saat yang sama, aku juga tidak ingin bertemu denganmu. Aku ingin, tetapi aku tidak bisa , dan aku tidak boleh, tetapi aku sangat ingin.”
Potongan diatas merupakan bagian dari
Sama halnya ketika kau menyatakan perasaanmu. Kau bilang bahwa kau bersedia melakukan apa saja asal ia bahagia, tapi ternyata pernyataanmu adalah satu-satunya hal yang membuat ia terluka. Bukan karena dirimu secara langsung, tapi karena di dalam dirinya berlangsung pertempuran, antara menjaga perasaanmu dengan mempertahankan hatinya sendiri. Aku tidak yakin penjelasan tambahanku dapat membantu, sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang tengah aku bicarakan dan lakukan. Karena itu, sebagai seseorang yang kuanggap paling mengerti diriku, kuharap kau mau menjelaskan apa itu cinta.
Semoga Sang Maha Kasih senantiasa membalas segala kebaikanmu.
Salam sayang selalu,
Kawanmu
Mau Tau Aja...
Sun Go Kong kini tengah melompat-lompat(simbol pikiran dalam Zen).
“Rasa ingin tahu perlu dibatasi ngga?” Jawaban dari pertanyaan itu aku temukan di cover belakang buku Samurai yang isinya, “Kemampuan untuk mengendalikan rasa ingin tahu kadang lebih penting daripada sebilah samurai tajam”(kurang ingat redaksional tepatnya seperti apa, soalnya kata-kata itu hanya aku baca sekilas pas liat-liat buku di Gramed). Kemudian di buku Vita Brevis aku juga menemukan bagian mengenai rasa ingin tahu. “Nilainya hanya sedikit diatas dua belas ribu dolar—untuk sesuatu yang mungkin saja tidak memiliki nilai sejarah apa pun. Namun aku begitu ingin tahu, dan aku bukanlah orang pertama yang membayar mahal untuk rasa ingin tahunya.”(Vita Brevis, Gardner:h.8)
Apakah rasa ingin tahu bagian dari hawa nafsu, sehingga untuk menghentikannya diperlukan upaya ekstra? Kalau merujuk kisah Pandora, tampaknya aku akan menjawab ya. Bayangkan saja, gara-gara rasa ingin tahu Pandora, semua kejahatan keluar dari kotak, dan hanya menyisakan sebuah kebaikan yaitu harapan. Apa jadinya kalau rasa penasaran senantiasa digenapkan dengan sebuah pencarian panjang tanpa jaminan jawaban. Mungkin hasilnya adalah manusia-manusia gelisah yang tenggelam dalam dunianya sendiri.
Pembatasan bagi rasa ingin tahu akhirnya membawaku pada sebuah pertanyaan yang lebih besar, liberal atau sosialis? Sebenarnya ini gara-gara belakangan ini aku kembali membaca-baca pemikiran orang-orang di JIL, kemudian aku bandingkan dengan teman-teman yang oleh JIL dituding sebagai kelompok militan fundamentalis(istilah yang menurutku sudah mengalami distorsi pemaknaan, sehingga umumnya dikonotasikan negatif). Terlepas dari segala tudingan yang dikenakan pada jaringan tersebut, argumen-argumen yang dikemukakan dalam diskusi di milis untuk beberapa kajian tertentu bisa diterima secara luas. Poin positif lain yang aku dapatkan dari milis itu adalah keterbukaan untuk menerima kritik dan perbedaan pendapat. Meski dari segi pewacanaan keluar cenderung untuk menampilkan kesan menentang arus dan asal beda. [
Tahun 98-an, banyak bermunculan buku-buku Islam dan Sosialisme, Islam dan Teologi Pembebasan, Kiri Islam dll. Sebenarnya wacana ini tidak benar-benar baru, kalau melihat pemikiran H.O.S Tjokroaminoto, terlihat bahwa beliau juga menganut paham tersebut(fui..h lagi-lagi menurut pendapatku). Pemikiran ini kemudian ditandingi oleh Islam Liberal(jadi selain muncul untuk menandingi islam literal, islam fundamental dll) secara ideologis, liberal berlawanan langsung dengan sosialisme(setidaknya kalau masih mau setia dengan pandangan biner, a dan bukan a). Nah, kedua kubu ini sama-sama menyatakan sebagai turunan dari islam.(Sebenarnya tidak adil juga kalau pemaknaan liberal langsung dikonotasikan ke JIL, karena ada orang-orang lain pemahaman islamnya liberal tidak tergabung dengan JIL, tapi kalau dimasukkan pembahasannya jadi kemana-mana…:( ).
Kasus yang menarik untuk disimak adalah mengenai dukungan terhadap kenaikan BBM yang mencantumkan beberapa dedengkot JIL sebagai pendukung. Salah satu argumen yang dikemukakan di milis oleh kelompok pro-kenaikan adalah pengurangan subsidi sejalan dengan ideologi liberal, yang kemudian dibantah dengan alasan, kalau seperti itu apa bedanya islam liberal dengan liberal murni. Perdebatannya kemudian menjadi cukup panjang dan melebar.
Aku tidak akan fokus ke masalah itu(fokus mengenai pemasangan iklan oleh freedom institute buat tugas kuliah kontroversi aja), tapi pertanyaan yang muncul adalah, benarkah islam cenderung pada liberal, demokrasi? Kalau pertanyaan ini aku peroleh waktu SMA pasti jawabanku tidak, soalnya saat itu aku lebih cenderung ke pemikiran sosialis. Tapi kalau dilihat dari konsep fitrah manusia, seharusnya dengan kebebasan berpikir seseorang dapat menuju pada kesejatian Islam. Seperti alasan yang dikemukakan dalam sejarah sudah berakhir(?), sejarah sudah tidak diperlukan lagi karena pertarungan pemikiran telah menelurkan kapitalisme sebagai pemenang. Berakhirnya sejarah diartikan sebagai puncak dari dialektika yang menelurkan kapitalisme sebagai ideologi sempurna hasil tesis-antitesis.
Meski ternyata pandangan itu salah dan ternyata kapitalisme belakangan dinilai bukan solusi ideal, adanya pandangan bahwa kebenaran akan selalu keluar sebagai pemenang cukup menarik. Kalau memang ya, sebagaimana argumen yang sering dikemukakan oleh teman-teman berhaluan liberal, maka demokrasi adalah sesuatu yang harus didukung, dan kebebasan informasi menjadi suatu hal yang mutlak. Tapi apa kondisi ideal senantiasa berlaku? Sebagaimana alam yang memiliki sistem keseimbangan, apakah kondisi yang ada sekarang sudah merupakan kondisi ideal?
Adam Smith pernah mengemukakan teori mengenai pasar ideal. Kondisi yang kemudian dikritisi oleh Keynes, karena menurutnya dalam The General Theory of Employment(1936), “Ekonomi pasar bebas bukanlah mekanisme yang selalu bisa memperbaiki dirinya, tetapi dalam beberapa kondisi(seperti yang umum), ekonomi pasar bebas ternyata dapat merosot tanpa kepastian.” Dari pandangannya ini kemudian muncul liberal keynesian yang melibatkan intervensi pemerintah dalam mengatur pasar, entah lewat pajak, belanja pemerintah maupun kontrol kredit.
Adanya campurtangan pemerintah, meski untuk negara yang memproklamirkan diri liberal sekalipun, mengindikasikan bahwa liberalisme murni tidak mungkin, yang mungkin hanyalah mengatasnamakan liberalisme untuk melegitimasi hal-hal yang menyangkut kepentingan publik. Contoh lain adalah affirmative action yang hadir untuk memberikan perlakuan-perlakuan khusus kepada kelompok-kelompok marjinal, seperti: buruh, perempuan, petani, nelayan. Khusus untuk masalah perempuan, affirmative action kadang memperoleh tantangan dari kaum feminis radikal yang menganggap perlakuan khusus ini sebagai salah satu bentuk ketidaksetaraan gender.
Bentuk-bentuk campurtangan, hingga pembatasan informasi menjadi suatu hal yang masuk akal bagi orang-orang sosialis--bahkan untuk beberapa kasus—juga berlaku untuk orang liberal. Alasannya kondisi yang ada belum ideal, untuk mencapai nilai-nilai dan keadaan yang diinginkan diperlukan rekayasa-rekayasa sosial yang hakekat/intinya hanya diketahui sebagian elit. Pandangan ini mengandung pro-kontra, pertama, sejauh mana elit benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat. Kedua, sistem kontrol apa yang dapat menjamin penguasa untuk tidak berlaku sewenang-wenang(sebagaimana kritik yang dilancarkan terhadap Marx, karena klas proletar pada akhirnya membentuk klas atas baru). Ketiga, rakyat senantiasa berada dalam kondisi mapan, dengan filter-filter yang dilakukan elit penguasa sehingga membentuk masyarakat yang tidak kritis dan stagnan.
Pandangan liberal versus sosialis kemudian sangat relevan ketika ditarik dalam masalah kebebasan pendapat. Salah satu indikator keberhasilan demokrasi adalah adanya kebebasan pendapat yang diwujudkan dalam pers yang independen. Hal ini tidak ditemui di negara-negara sosialis, seperti ketika terjadi penyanderaan murid-murid sekolah di Rusia, tayangan berita Rusia tetap adem-ayem, hal serupa juga dilakukan oleh media di Singapure dan
Naïve? Sangat mungkin. Tapi lebih jauh lagi, hal yang aku sesalkan adalah kebebasan informasi seringkali diartikan sebagai era keterbukaan. Atas nama realitas dan masyarakat yang sudah cukup dewasa, banyak tayangan yang cukup vulgar lolos sensor. Jumlah tabloid maupun majalah yang ‘menjual perempuan’ pun meningkat tajam. Masyarakat tiba-tiba kehilangan kontrol, entah apa ini yang disebut eforia atau kondisi sekarang masuk kategori sakit.
Untuk mengimbangi kebebasan informasi tersebut, yang sudah nyaris mustahil untuk dihambat, muncul budaya tandingan(counter culture). Pandangan yang digunakan bukan mengenai kegamangan seseorang ditengah
Pembahasan mengenai sosialis-kapitalis, bebas-tidak bebas menjadi cukup rumit. Karena alat kontrol pun kurang mempan. Cara yang lebih efektif ternyata dengan memunculkan sebuah sistem alternatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang tengah gelisah. Hal yang hanya mungkin diwujudkan pada iklim keterbukaan(baca: demokrasi). Meski kalau melihat perjalanan sejarah, semenjak NKK/BKK disahkan pada tahun 1979, banyak aktivis yang mengalihkan kegiatannya ke masjid-masjid serta organisasi keprofesian. Namun momentum perubahan diperoleh ketika iklim politik di
Pandangan global diatas juga berlaku dalam skala mikro. Misalnya, sejauh apa kontrol orangtua dalam mengarahkan anak pada agama serta nilai-nilai? Apakah dengan cara yang otoriter, atau dengan pemahaman serta peneladanan? Bagaimana kalau cara kedua kurang berhasil? Hal ini bagiku menjadi cukup dilematis(hua..ha..ha.. bahasannya jadi serius gini..) karena aku sendiri lebih mementingkan segi-segi humanis, sedangkan dalam wilayah bernama agama, ada dogma-dogma yang memang tidak bisa diperdebatkan. Seperti waktu itu pernah ngobrol dengan seorang teman, menurut dia perbedaan organisasi agama dan non-agama terletak pada tujuannya. Organisasi agama memiliki tanggungjawab moral bukan hanya pada kebaikan universal, melainkan juga pada kebenaran agama yang dianut. Poin tambahan ini yang menjadi agak kompleks, karena ketika berbicara mengenai kebenaran ada banyak sekali sudut yang bisa dipakai.
Di postingan mengenai jilbab, ada komen yang menyebutkan tentang yang penting mental jilbab bukan tampilan fisik. Kalau dari segi humanis, aku setuju, tapi kalau seperti itu aku jadi kehilangan fokus yang buntutnya mengarah pada sinkretisme agama.
Kesimpulannya(hua..ha…ha… kaya anak TK aja pake kesimpulan segala, biar keren epilog aja deh). Epilog, masing-masing orang punya jalannya masing-masing. Hikmah ada pada teks, hujan yang memberi nafas baru bagi tanaman, pergantian siang-malam, VCD-VCD Harun Yahya, lagu-lagu Barat hingga nasyid, film, ta’lim-ta’lim, pesantren, sekolah umum, lebah, bunga, gunung, keluarga, teman. Segalanya adalah tanda(def: menunjuk pada sesuatu diluar dirinya) yang akan dikaitkan dengan petanda pada masing-masing individu(pake konsep penanda-petandanya Saussure) dan menuju pada satu titik, Dia.
Karena Sang Maha Kasih akan berlari padamu ketika engkau tertatih menuju-Nya….
Thursday, April 07, 2005
Superman
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed...but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
It’s not easy to be me
(Superman, Five for Fighting)
Wednesday, April 06, 2005
Pengamat
Kalau dipikir-pikir, seorang wartawan/saintis yang baik kan memang harus menjadi seorang pengamat sejati. Artinya, sebisa mungkin pengaruh subjektivitas pribadi direduksi. Kalau kata pak bhm waktu training kemarin, media berperan sebagai juri dalam sistem peradilan. Media memiliki otoritas untuk menyaring informasi apa yang layak ditampilkan kepada publik, sementara posisi hakim tetap dipegang oleh pembaca. Nah, aku juga lebih senang menjadi pengamat daripada terlibat langsung. Implementasinya ya... jadi rada-rada ancur. Udah berapa bentuk kaderisasi yang aku hindari, mulai oskm, os jur, LMD, sampai bentuk-bentuk kaderisasi yang lebih informal sampai jabatan-jabatan struktural. Hehe... istilah kerennya out of structure... Hal yang mengimbangi sisi ini hanya segi kompromistis yang aku miliki. Agar menghindari konflik, aku harus tetap melakukan tarik-ulur, antara keinginan dan kewajiban. Lagian ngga kebayang kan kalau hidup menentang struktur terus menerus.
Ilustrasinya seperti ini, ketika dunia diributkan oleh dikotomi antara blok barat dan blok timur, Indonesia dan negara-negara netral memproklamirkan diri tergabung dalam Gerakan Non-Blok. Pada akhirnya, GNB ini memiliki kebijakan regional sendiri, dan bentuk kerjasama2 antara negara anggota. Lalu apa bedanya dengan blok Barat, dan blok Timur yang juga melakukan hal serupa bagi para anggotanya. Contoh yang agak berbeda mungkin pada istilah himpunan dan non-himp. Istilah ini masih benar, karena orang-orang yang non-himp tidak membentuk sebuah organisasi formal.
Pada kasusku, ketidakteraturan yang aku alami lama-lama membentuk pada sebuah bentuk kemapanan baru, yaitu keteraturan yang tidak teratur(chaos). Kontradiksi dengan pola hidup tidak terstruktur. Hua..ha..ha... abis belajar anril(baca:unreal), pelajaran killer di math. Jadi aja pola pembuktian argumentasinya menggunakan pembuktian secara tak langsung(kalo ngga salah istilah kerennya reducto ad absordum).
Ibuku pernah mengusulkan, kalau melanjutkan ke S-2, mending milih yang lebih sosial, seperti kajian kebijakan. Isi orang-orangnya sosial ama sains, nanti kerjanya di BAPPENAS. Di Indonesia masih realtif baru, tapi kalau di luar negeri, udah banyak universitas yang menyediakan jurusan ini. Ada kenalan maya yang mengambil jurusan ini di Amrik, pas aku baca tulisannya keren banget. Hal yang kebayang dalam benakku adalah kajian kebijakan teknologi atau semacam itu deh... Intinya jadi pengamat abis...
Monday, April 04, 2005
Jadi Apa?
O iya jadi nyambung lagi sama materi yang dikasih kang Al Sabtu kemarin(tentu saja setelah mengalami distorsi waktu, ingatan dan subjektibvitas), mengenai energi minimal. Kalau seseorang menyukai suatu bidang, maka energi yang dikeluarkan untuk mendalami bidang itu disebut energi minimal(hua..ha... pantes untuk baca buku Strauss ama Marsden berat banget dibandingkan buku2nya Paulo Coelho dan Gardner). Dalam dunia tulis menulis misalnya, untuk memperoleh tulisan yang bagus lebih baik nulisnya di fokuskan dalam satu bidang kajian, daripada lompat-lompat ngebahas masalah fisika, budaya, politik. Tulisannya malah ngga dalem.
Au..ah... pokoknya kuliah diberesin dulu...
Berubah
A Letter to Papa
Dear Papa, It should be your 73rd birthday on the third of January. I could only send you Al-Fatihah and pray that Allah SWT always protect ...
-
Is technological failure a good thing? This question crossed my mind when I attended a lunch lecturer on nano-technology and development. Th...
-
"Jadi apa yang kamu cari?" "Somebody who can complete me .." "Come on, be serious." "I am serious. I w...